Selasa, 17 Maret 2015

Profil Tanah
– Profil tanah adalah susunan tanah berdasarkan lapisan-lapisan tertentu yang menunjukan tingkat kepadatan, warna, dan tekstur yang berbeda beda.
– Sebuah horizon tanah merupakan penampang melintang dari permukaan tanah hingga ke bahan induk tanah, berikut horizon-horizon tanah;
SOIL_PROFILE
1) Horizon O : Lapisan permukaan, terdapat banyak akar tanaman, dan jasad renik tanah. Berwarna gelap dan kaya akan humus.
2) Horizon A : Zona evaluasi yang mempunyai banhyak humus. Berwarna keabuan dan sedikit pucat.
3) Horizon B : Zona akumulasi yang sedikit humus. Berwarna coklat kuning atau coklat kemerahan.
4) Horizon C : Zona terjadinya pelapukan bahan induk tanah.
5) Horizon R : Zona bahan induk tanah.

Rabu, 04 Februari 2015

Materi IPS Kelas 5 Semester 2

PERJUANGAN DALAM MEMPERSIAPKAN KEMERDEKAAN INDONESIA

Bulan Februari 1945 pasukan Sekutu berhasil merebut Pulau Iwo Lima di Jepang. Sejak saat itu kekuatan tentara Jepang semakin lemah. Untuk menarik simpati rakyat Indonesia, Jepang mengizinkan Indonesia untuk mengibarkan bendera Merah Putih di samping bendera Jepang. Lagu kebangsaan Indonesia Raya boleh dikumandangkan setelah lagu Kebangsaan Jepang Kimigayo .

1.      BEBERAPA USAHA DALAM RANGKA MEMPERSIAPKAN KEMERDEKAAN

a.      Era BPUPKI
Pada  1 Maret 1945,   Jenderal Kamakuci Herada mengumumkan dibentuknya badan yang bertugas mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Badan tersebut dinamakan BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Dalam bahasa Jepang disebut Dokuritsu Zumbi Coosakai. Tujuannya untuk mempersiapkan hal-hal penting mengenai  masalah tata pemerintahan negara Indonesia setelah merdeka. Badan tersebut diketuai oleh dr. Radjiman Wedyodiningrat. didampingi dua orang ketua muda, yaitu R.P Suroso dan Ichibangase. Selain menjadi ketua muda, R.P. Suroso juga diangkat menjadi kepala kantor tata usaha BPUPKI dibantu Toyohiko Masuda dan Mr. A.G. Pringgodigdo.  BPUPKI ini diresmikan pada 29 Mei 1945.
Pada sidang 29 Mei 1945, Mohammad Yamin mengajukan rancangan dasar negara. Yakni peri kebangsaan, peri kemanusiaan, peri ketuhanan, peri kerakyatan dan kesejahteraan rakyat.  Pada 31 Mei 1945, Supomo mengajukan rancangan dasar negara yang terdiri atas persatuan, kekeluargaan, mufakat dan demokrasi, musyawarah dan keadilan sosial. Pada 1 Juni 1945, Ir. Soekarno yang mengajukan lima rancangan dasar negara, dan memberi nama Pancasila. Rancangan itu berisi kebangsaan  Indonesia, internasionalisme dan perikemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial, dan ketuhanan yang maha esa.

b.      Era PPKI
Setelah BPUPKI menyelesaikan tugas-tugasnya, pada 7 Agustus 1945 dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Badan ini bertugas mempersiapkan segala sesuatu yang menyangkut masalah ketatanegaraan bagi negara Indonesia baru. Badan ini beranggotakan 21 orang. Adapun yang ditunjuk sebagai ketua adalah Ir. Sukarno, sedangkan wakil ketuanya Drs. Moh Hatta. Sebagai penasihat ditunjuk Mr. Ahmad Subarjo. Kemudian, anggota PPKI ditambah lagi sebanyak enam orang, yaitu Wiranatakusumah, Ki Hajar Dewantara, Mr. Kasman Singodimejo, Sayuti Melik, Iwa Kusumasumantri, dan Ahmad Subarjo.
Pada  22 Juni 1945 dibentuklah panitia kecil. Panitia tersebut terdiri atas sembilan orang anggota, yaitu Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta,  Muhamad Yamin, Ahmad Subardjo, A. A. Maramis, Abdulkahar Muzakar, K.H. Wachid Hasyim, K.H. Agus Salim dan Abikusno Tjokrosujoso. Ketuanya adalah Ir. Soekarno. Panitia Sembilan ini bertugas merumuskan asas dan  tujuan negara merdeka. Panitia Sembilan berhasil merumuskan dokumen yang dikenal sebagai  Jakarta Charter atau Piagam Jakarta.
Piagam Djakarta tersebut kemudian dijadikan sebagai Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945. Akan tetapi, terdapat perubahan pada bagian pertama dalam Piagam Djakarta, yaitu “Ketuhanan dengan berkewajiban menjalankan syariat-syariat Islam bagi para pemeluknya”.  Kalimat ini kemudian diubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Hal ini dilakukan sebagai  wujud toleransi terhadap pemeluk agama lain.
Selama menjalankan tugasnya, PPKI melaksanakan tiga kali sidang. Adapun sidang-sidang yang telah dilaksanakan oleh PPKI adalah sebagai berikut.
1.      Pada 18 Agustus 1945, menghasilkan keputusan:
a.       mengesahkan dan menetapkan Undang-Undang Dasar 1945;
b.      memilih Ir. Sukarno sebagai presiden dan Drs. Moh. Hatta sebagai wakil Presiden; dan
c.       memperkerjakan KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) sebelum dibentuk MPR.
2.      Pada 19 Agustus 1945, menghasilkan keputusan:
a.       penetapan kabinet pertama RI; dan
b.      pembagian daerah RI menjadi delapan provinsi.
3.      Pada 22 Agustus 1945, menghasilkan keputusan:
a.       pembentukan KNIP yang diketuai oleh Mr. Kasman Singodimedjo;
b.      pembentukan Partai Nasional Indonesia; dan
c.       pembentukan BKR (Barisan keamanan Rakyat) yang kemudian pada 5 Oktober 1945 diubah namanya menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat).
Sementara itu Keadaan tersebut dimanfaatkan oleh bangsa Indonesia untuk menyatakan  kemerdekaan. Pada tanggal  17 Agustus 1945.

2.      PERLUNYA PERUMUSAN DASAR NEGARA SEBELUM KEMERDEKAAN
Mengingat begitu besar peran dasar negara bagi kelangsungan hidup suatu negara, maka dasar negara harus dirumuskan dan ditetapkan. Hal-hal yang menjadi alasan mengapa suatu dasar negara perlu dirumuskan, antara lain:
a.       Nilai-nilai kepribadian bangsa perlu dirumuskan secara resmi.
b.      Negara memerlukan dasar untuk melangkah maju.

3.      MENGHARGAI JASA TOKOH DALAM MEMPERSIAPKAN KEMERDEKAAN

1.      Beberapa Tokoh dalam Mempersiapkan Kemerdekaan

a.       Ir. Soekarno
clip_image002
Ir. Soekarno lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901. Pada masa pergerakan nasional, Soekarno selalu tampil sebagai pemimpin organisasi. Pada 1927 Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Pada  masa penjajahan Jepang, Soekarno memimpin organisasi Pusat Tenaga Rakyat (Putera). Ia bersama Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K.H. Mas Mansyur mengelola Putera. Pada sidang BPUPKI pertama,  29 Mei sampai 1 Juni 1945, Soekarno mengenalkan lima asas pokok dalam suatu negara. Lima asas ini ditetapkan BPUPKI dengan nama Pancasila. Bung Karno wafat pada 21 Juni 1970 dan dimakamkan di Kota Blitar ( Jawa-Timur)

b.      Drs. Moh. Hatta
clip_image004
Drs. Moh. Hatta lahir di Batuampar, Sumatera Barat pada 12 Agustus 1902. Nama aslinya Mohammad Khattan. Ia dikenal sebagai anak yang taat beragama. Gelar sarjana diraihnya di Belanda. Pada  masa pergerakan nasional, Drs. Moh. Hatta  menjadi ketua Perhimpunan Indonesia di Belanda. Pada masa pendudukan Jepang, Drs. Moh. Hatta memimpin Pusat Tenaga Rakyat (Putera).

c.       Prof. Dr. R. Soepomo, S.H.
clip_image006
Buah pikirannya banyak dipakai dalam penyusunan UUD 1945. Ia ahli ilmu tata negara dan  hukum. Pada sidang BPUPKI ia menjadi ketua panitia  kecil yang bertugas merancang Undang-Undang Dasar. Dalam sidang pertama BPUPKI, 31 Mei 1945, Soepomo mengemukakan lima dasar negara. Ia juga diberi tugas memperbaiki redaksi dari rancangan UUD. Terakhir Soepomo duduk sebagai anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

d.      Prof. Mohammad Yamin, S.H.
clip_image008
Kegiatan berorganisasi dimulainya dengan memasuki Jong Sumatranen Bond. Kemudian menjadi Indonesia Muda. Ia juga salah satu tokoh lahirnya Sumpah Pemuda pada  28 Oktober 1928. Dalam  sidang BPUPKI, Moh. Yamin menyampaikan gagasan mengenai dasar falsafah negara yang kemudian dinamakan Pancasila.

2.      Sikap Menghargai Jasa Para Tokoh dalam Mempersiapkan Kemerdekaan
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita menghargai jasa-jasa mereka. Salah satu caranya adalah dengan berziarah  ke taman makam pahlawan. Lalu, kita mendoakan mereka. Cara  lainnya, yaitu mewarisi semangat mereka dalam rangka mengisi kemerdekaan. Kita berusaha memajukan  bangsa sesuai dengan keahlian masing-masing. Kita juga harus berusaha menjalin persatuan dan kesatuan bangsa, seperti halnya para pahlawan saat berjuang mengusir penjajah.
Selain itu, cara untuk mengenang dan menghargai jasa para pahlawan, di antaranya sebagai berikut.
1.      Meniru semangat juangnya dan mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
2.      Mengheningkan cipta untuk mengenang jasa pahlawan, pada saat upacara sekolah.
3.      Menggunakan nama pahlawan untuk jalan atau bangunan sejarah berupa gedung.

Materi Matematika Kelas 5 Semester 2

Mengubah Pecahan Biasa ke Bentuk Persen dan Desimal serta Sebaliknya


Saat di mal atau supermarket kamu pasti sering melihat keadaan seperti di atas. Begitu juga di toko busana, took sepatu dan tas, toko alat tulis, dan toko swalayan sering memberikan diskon atau potongan harga. Besar diskon biasanya ditunjukkan dengan persen. Misalnya, suatu jenis busana didiskon 50%. Artinya, pembeli jenis busana tersebut mendapat potongan harga 50% dari harga yang tercantum pada label.

1.Mengubah Pecahan Ke dalam Bentuk Persen dan Sebaliknya
a.Mengubah pecahan ke dalam bentuk persen
Cara mengubah pecahan biasa ke dalam bentuk persen, yaitu dengan cara mengubah penyebut pecahan tersebut menjadi 100, karena persen merupakan per seratus  Pahamilah perubahan pecahan menjadi persen di bawah ini!
ct1.1Karena penyebut pecahan (2) ingin jadi 100, maka penyebut harus dikalikan kepada 50 (2 x 50 = 100), sehingga pembilang pun harus dikalikan dengan bilangan yang sama (1 ∞ 50) sehingga 1/2 =   50 %
b.Mengubah persen ke bentuk pecahan biasa
Mengubah  persen ke dalam bentuk pecahan biasa dilakukan dengan cara sebagai berikut.
1. Dari bentuk persen diubah dulu menjadi pecahan biasa (per seratus).
2. Taksir atau cari pembagi terbesar dari bilangan pembilang dan penyebut.
3. Bagi pembilang maupun penyebut dengan bilangan pembagi tersebut.
Contoh
ct1.2Pembagi terbesar dari 75 dan 100 adalah 25, maka kedua bilangan 75 dan 100 (pembilangdan penyebut) dibagi oleh bilangan 25. Menjadi
75   :  25 = 3  (pembilang)
100  :  25 = 4 (penyebut)
2.Mengubah Pecahan Ke dalam Bentuk Desimal dan Sebaliknya
a.Mengubah pecahan ke dalam bentuk desimal
Mengubah pecahan biasa ke dalam bilangan desimal dapat dilakukan dengan dua cara berikut.
1)Dengan cara dibagi (bagi kurung). Ingat, bahwa  ( per = bagi).Jadi, untuk mengubah pecahan menjadi desimal dengan jalan pembilang dibagi penyebut.
Contoh:
ct2.2Caranya:
Pecahan 1/4 sama dengan 1 :  4, dapatkah bilangan 1  :   4? Apabila yang dibagi lebih kecil daripada yang membagi, maka tambahkan angka 0 dan naikkan koma sehingga akan membentuk bilangan desimal.
2)Dengan cara mengubah penyebut menjadi 10, 100, atau 1000.  Ingat, bahwa bilangan desimal merupakan bilangan per sepuluh,  per seratus, atau per seribu.
Contoh :
ct2,2Penyebut dijadikan 10 ( 2 x 5  =  10) karena penyebut dikalikan dengan bilangan 5, maka pembilang pun harus dikalikan pada bilangan yang sama (5). Jadi,  (1 x 5  =  5), maka sekarang menjadi pecahan 1/5 = 0,5
Jadi 1/5 = 0,5
b.Mengubah bilangan desimal menjadi pecahan biasa
Mengubah bilangan  desimal  menjadi  pecahan biasa caranya hampir sama dengan cara yang kedua dalam mengubah  pecahan biasa menjadi desimal ( diubah menjadi per sepuluh, perseratus, perseribu) kemudian pembilang dan penyebut dibagi dengan angka yang sama.
Contoh:
3.22

Bilangan desimal 0,5 sama dengan pecahan untuk menyederhanakan pecahan 5/10 , maka pembilang dan penyebut dibagi dengan bilangan yang sama (bilangan terbesar yang dapat membagi keduanya) yaitu bilangan 5, sehingga pembilang (5  : 5 = 1) dan penyebut (10 : 5 =  2).
Jadi 0,5 = 1/2

3.Mengubah Desimal Ke dalam Bentuk Persen dan Sebaliknya
a.Mengubah desimal ke dalam bentuk perse
343Bilangan desimal diubah dulu menjadi pecahan per sepuluh atau per seratus. Ingatlah per seratus sama dengan persen.
b.Mengubah persen ke dalam bilangan desimal
256Bilangan persen diubah menjadi per seratus dan untuk menjadikan bilangan desimal hanya tinggal menentukan angka di belakang koma. Agar lebih jelas perhatikanlah contoh di samping ini

Materi IPS Kelas 5 Semester 2

Perjuangan Melawan Penjajahan Belanda.

Bangsa Eropa mulai mencari barang-barang kebutuhan sehari-hari, seperti buah-buahan, rempah-rempah, wol, porselin , dan lain-lain dari negara-negara di luar Eropa. Indonesia, terkenal sebagai tempat penghasil rempah-rempah. Rempah- rempah yang dihasilkan bangsa Indonesia digunakan sebagai bahan obat-obatan, penyedap makanan, dan pengawet makanan. Maka, berlomba-lombalah Bangsa Eropa untuk mendapatkan rempah-rempah dari Indonesia.


Pada 22 Januari 1596 Belanda pertama kali mendarat di Banten di bawah pimpinan Cornelis de Hautman. Pada awalnya, kedatangan Bangsa Belanda disambut baik oleh Sultan Banten. Kegiatan perdagangan menjadi ramai. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Bangsa Belanda berubah menjadi serakah dan kasar akhirnya diusir oleh Raja Banten. 

Pada tahun 1598 Belanda datang kembali dengan sikap yang lebih baik. Belanda dapat diterima kembali di Indonesia. Banyak pedagang Belanda datang ke Indonesia. Hal ini mengakibatkan terjadinya persaingan dagang dan pertikaian di antara mereka. Akibatnya, harga rempah-rempah tidak terkendali. Pada 20 Maret 1602 dibentuk Perkumpulan Dagang Hindia Timur atau Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC). Tujuan didirikannya VOC adalah :
  • Menghilangkan persaingan yang merugikan pedagang Belanda
  • Menyatukan tenaga untuk menghadapi saingan dari bangsa portugis dan pedagang lain diIndonesia
  • Mencari keuntungan sebesar-besarnya untuk membiayai perang
Akan tetapi, lama-kelamaan VOC berusaha menguasai perdagangan (monopoli). Untuk mewujudkan maksud itu Pemerintah Belanda memberikan hak-hak istimewa kepada VOC, yaitu :
  • Membuat perjanjian dengan raja setempat
  • Menyatakan perang dan membuat perdamaian
  • Membuat senjata dan mendirikan benteng
  • Mencetak uang
  • Mengangkat dan menghentikan pegawai
Di Maluku VOC melakukan Pelayaran Hongi (patroli laut) untuk mengawasi rakyat Maluku agar tidak menjual rempah-rempah mereka kepada pedagang lain. VOC berhasil merebut Maluku dari Portugis. Tahun 1605 Belanda merebut Benteng Portugis di Ambon. Pusat perdagangan Ambon, Banda, dan Jayakarta direbut Belanda pada masa Gubernur Jenderal J.P. Coen. Ia mengganti nama Jayakarta menjadi Batavia.

VOC mampu berdiri dalam waktu yang sangat lama. Pada Tanggal 31 Desember 1799, VOC dibubarkan. VOC dibubarkan karena sebab-sebab berikut ini.  
  • Pejabat-pejabat VOC melakukan korupsi dan hidup mewah.
  • VOC menanggung biaya perang yang sangat besar.
  • Kalah bersaing dengan pedagang Inggris dan Prancis.
  • Para pegawai VOC melakukan perdagangan gelap. 
Daendels
Pada tanggal 1 Januari 1800, kekuasaan VOC di Indonesia digantikan langsung oleh pemerintah Kerajaan Belanda. Pada tahun 1806, Napoleon Bonaparte berhasil menaklukkan Belanda. Napoleon mengubah bentuk negara Belanda dari kerajaan menjadi republik. Napoleon ingin memberantas penyelewengan dan korupsi serta mempertahankan Pulau Jawa dari Inggris. Ia mengangkat Herman Willem Daendels menjadi Gubernur Jenderal di Batavia. Untuk menahan serangan Inggris, Daendels (1808-1811) melakukan tiga hal, yaitu:
(1) menambah jumlah prajurit, (2) membangun pabrik senjata, kapal-kapal baru, dan pos-pos pertahanan, (3) membangun jalan raya Jalan Raya Anyer-Panarukan yang panjangnya sekitar 1.000 km. Daendels memberlakukan kerja paksa tanpa upah untuk membangun jalan. Kerja paksa ini dikenal dengan nama kerja rodi. 

Pada tahun 1811, Daendels dipanggil ke Belanda. Ia digantikan oleh Gubernur Jenderal Janssens. Saat itu pasukan Inggris berhasil mengalahkan Belanda di daerah Tuntang, dekat Salatiga, Jawa Tengah. Pada 18 September 1811 Janssens dipaksa menandatangani perjanjianTuntang yang berisi :
  • Seluruh wilayah jajahan Belanda di Indonesia diserahkan kepada Inggris.
  • Adanya sistem pajak/sewa tanah.
  • Sistem kerja rodi dihapuskan.
  • Diberlakukan sistem perbudakan
Inggris berkuasa di Indonesia selama lima tahun (1811-1816). Pemerintah Inggris mengangkat Thomas Stamford Raffles menjadi Gubernur Jenderal di Indonesia. Pemerintah memberlakukan sistem sewa tanah yang dikenal dengan nama landrente.Pada tahun 1816, Inggris menyerahkan wilayah Indonesia kepada Belanda. Pemerintah Belanda menunjuk Van Der Capellen sebagai gubernur jenderal. Van Der Capellen mempertahankan monopoli perdagangan yang telah dimulai oleh VOC dan tetap memberlakukan kerja paksa.

Pada tahun 1830, Van Der Capellen diganti Van Den Bosch. Bosch memberlakukan tanam paksa atau cultuur stelsel untuk mengisi kas pemerintah yang kosong. Van Den Bosch membuat aturan-aturan untuk tanam paksa sebagai berikut:
  • Rakyat wajib menyediakan 1/5 dari tanahnya untuk ditanami tanaman yang laku di pasaran Eropa.
  • Tanah yang dipakai untuk tanamam paksa bebas dari pajak.
  • Hasil tanaman diserahkan kepada Belanda.
  • Pekerjaan untuk tanam paksa tidak melebihi pekerjaan yang diperlukan untuk menanam padi.
  • Kerusakan-kerusakan yang tidak dapat dicegah oleh petani menjadi tanggungan Belanda.
  • Rakyat Indonesia yang bukan petani harus bekerja 66 hari tiap tahun bagi pemerintah Hindia Belanda.
Ada orang Belanda yang peduli terhadap nasib rakyat Indonesia. Dia adalah Douwes Dekker. Ia mengecam tanam paksa melalui bukunya yang berjudul Max Havelaar, dengan nama samaran Multatuli. Max Havelaar menceritakan penderitaan bangsa Indonesia sewaktu dilaksanakan tanam paksa. Max Havelaar menggegerkan seluruh warga Belanda. Timbul perdebatan hebat tentang tanam paksa di negeri Belanda. Akhirnya, Parlemen Belanda memutuskan untuk menghapus tanam paksa secepatnya.

Perlawanan Menantang Penjajahan Belanda
1.  Perlawanan Rakyat Mataram
Pada tahun 1628 dan 1629, Mataram melancarkan serangan besar-besaran terhadap VOC di Batavia. Sultan Agung mengirimkan ribuan prajurit untuk menggempur Batavia dari darat dan laut. Tahun 1628 perlawanan mengalami kegagalan karena kurangnya persediaan makanan,  1629 berhasil menghancurkan benteng Hollandia

2. Perlawanan Rakyat Makasar
Di Sulawesi Selatan VOC mendapat perlawanan dari rakyat Indonesia di bawah pimpinan Sultan Hassanuddin. Namun Sultan Hassanudin dapat dikalahkan VOC dengan politik adu dombanya antara Sultan Hassanudin dengan Aru Palaka Perlawanan terhadap VOC di Pasuruan Jawa Timur dipimpin oleh Untung Suropati.

3. Perlawanan Rakyat Banten
Sultan Ageng Tirtayasa mengobarkan perlawanan di daerah Banten. Namun mengalami kegagalan karena VOC menerapkan politik adu domba (devide et impera) antara Sultan Ageng Tirtayasa dan putranya Sultan Haji. Sultan Haji yang dibantu VOC mengalahkan Sultan Ageng Tirtayasa

4. Perlawanan Rakyat Maluku
Tahun 1816 VOC datang dan menguasai Maluku. Dipimpin oleh Thomas Matulessi (Kapten Pattimura), rakyat Maluku melakukan perlawanan pada tahun 1817. Pattimura dibantu oleh Anthony Ribok, Philip Latumahina, Ulupaha, Paulus Tiahahu, dan seorang pejuang wanita Christina Martha Tiahahu. Pada tanggal 16 Desember 1817, Pattimura dihukum gantung di depan Benteng Victoria di Ambon.

5. Perang Padri (1821-1837)
Perang Padri bermula dari pertentangan antara kaum adat dan kaum agama (kaumPadri). Kaum Padri ingin memurnikan pelaksanaan agama Islam. Gerakan Padri itu ditentang oleh kaum adat. Kaum adat minta bantuan kepada Belanda dengan imbalan sebagian wilayah Minangkabau. Pasukan Padri dipimpin oleh Datuk Bandaro. Setelah beliau wafat diganti oleh Tuanku Imam Bonjol. Pasukan Padri dengan taktik perang gerilya, berhasil mengacaukan pasukan Belanda. Pada tahun 1825 terjadi gencatan senjata. Belanda mengakui beberapa wilayah sebagai daerah kaum Padri. Tahun 1830 kaum adat mulai banyak membantu kaum Padri karena tidak menyukai kesewenangan Belanda. Tahun 1833 terjadi pertempuran hebat di daerah Agam, Belanda mengepung pasukan Bonjol. Namun pasukan Padri dapat bertahan sampai dengan tahun 1837. Pada tanggal 25 Oktober 1837, benteng Imam Bonjol dapat diterobos. Beliau tertangkap dan diasingkan di Cianjur kemudian dipindahkan ke Minahasa hingga wafat

6. Perang Diponegoro (1825-1830)
Perang Diponegoro berawal dari kekecewaan Pangeran Diponegoro atas campur tangan Belanda terhadap istana dan tanah tumpah darahnya. Kekecewaan itu memuncak ketika Patih Danureja atas perintah Belanda memasang tonggak-tonggak untuk membuat rel kereta api melewati makam leluhurnya. Dipimpin Pangeran Diponegoro, rakyat Tegalrejo menyatakan perang melawan Belanda tanggal 20 Juli 1825. Diponegoro dibantu oleh Pangeran Mangkubumi sebagai penasehat, Pangeran Ngabehi Jayakusuma sebagai panglima, dan Sentot Ali Basyah Prawiradirja sebagai panglima perang. Kyai Mojo dari Surakarta mengobarkan Perang Sabil. Antara tahun 1825-1826 pasukan Diponegoro mampu mendesak pasukan Belanda. Pada tahun 1827, Belanda mendatangkan bantuan dari Sumatra dan Sulawesi. Jenderal De Kock menerapkan taktik perang benteng stelsel. Taktik ini berhasil mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro. Dalam perundingan yang diadakan tanggal 28 Maret 1830 di Magelang, Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda. Beliau diasingkan dan meninggal di Makassar.

7.  Perang Banjarmasin
Penyebab perang Banjarmasin adalah Belanda melakukan monopoli perdagangan dan mencampuri urusan kerajaan. Perang Banjarmasin dipimpin oleh Pangeran Antasari. Beliau didukung oleh Pangeran Hidayatullah. Pada tahun 1862 Hidayatullah ditahan Belanda dan dibuang ke Cianjur. Pangeran Antasari diangkat rakyat menjadi Sultan. Pangeran Antasari berusaha mempertahankan wilayah Banjar dengan cara membakar stiap kapal Belanda yang masuk wilayah Banjar. Tahun 1863 Belanda melancarkan serangan ke seluruh wilayah Banjar hingga akhirnya Pangeran Antasari gugur.

8. Perang Bali (1846-1868)
Penyebab Perang Bali adalah pihak Belanda menolak hak Tawan Karang yang diterapkan Kerajaan Buleleng. Belanda melakukan tiga kali penyerangan, yaitu pada tahun 1846, 1848, dan 1849. Setelah Buleleng dapat ditaklukkan, rakyat Bali mengadakan perang puputan, yaitu berperang sampai titik darah terakhir. Di antaranya : (1) Perang Puputan Badung (1906),(2) Perang Puputan Kusumba (1908), (3) Perang Puputan Klungkung (1908). Salah satu pemimpin perlawanan rakyat Bali yang terkenal adalah Raja Buleleng dibantu oleh Gusti Ketut Jelantik.

9.  Perang Rakyat tapanuli
Tahun 1873 Belanda memasuki wilayah Tapanuli dengan alas an memadamkan aktivitas pejuang Padri dan Aceh. Tahun 1878, Belanda menyerang Tapanuli. Perang Tapanuli diawali dengan operasi militer yang dilakukan oleh Jendral Van Daelen di pedalaman Aceh Tahun 1903-1904. Pada tahun 1904 Belanda kembali menyerangtanah Gayo. Pada saat itu Belanda juga menyerang daerah Danau Toba. Pada tahun 1907, pasukan Belanda menyerang kubu pertahanan pasukan Sisingamangaraja XII di Pakpak. Sisingamangaraja gugur dalam penyerangan itu. Jenazahnya dimakamkan di Tarutung, kemudian dipindahkan ke Balige.

10.  Perang Aceh
Tahun 1873 Belanda melakukan serangan ke Aceh. Rakyat Aceh mengadakan perlawanan di bawah pemimpin-pemimpin Aceh antara lain Panglima Polim, Teuku Cik Ditiro, Teuku Ibrahim, Teuku Umar, dan Cut Nyak Dien. Tahun 1879 Belanda dapat menguasai Aceh. Belanda mengirim Dr. Snouck Hurgronje untuk mempelajari sistem kemasyarakatan penduduk Aceh. Dari penelitian yang dibuatnya, Hurgronje menyimpulkan bahwa kekuatan Aceh terletak pada peran para ulama. Penemuannya dijadikan dasar untuk membuat siasat perang yang baru. Belanda membentuk pasukan gerak cepat (Marchose) untuk mengejar dan menumpas gerilyawan Aceh. Dengan pasukan marchose Belanda berhasil mematahkan serangan gerilya rakyat Aceh. Tahun 1899, Teuku Umar gugur dalam pertempuran di Meulaboh. Pasukan Cut Nyak Dien yang menyingkir ke hutan dan mengadakan perlawanan juga dapat dilumpuhkan


Penjajahan Jepang
Dalam Perang Dunia II (1939-1945), Jepang bergabung dengan Jerman dan Italia melawan Sekutu. Sekutu terdiri dari Amerika, Inggris, Belanda, dan Perancis. Pada tanggal 8 Desember 1941 pasukan Jepang menyerang pangkalan Angkatan Laut Amerika di Pearl Harbour (Hawai). Terjadilah Perang Pasifik atau Perang Asia Timur Raya. Dalam waktu singkat, pasukan Jepang menyerbu dan menduduki Filipina, Myanmar, Malaya, Singapura, dan Indonesia.

Ada beberapa alasan Jepang menduduki Indonesia, antara lain sebagai berikut.
  • Indonesia kaya akan bahan-bahan mentah, seperti minyak bumi dan batu bara.
  • Wilayah Indonesia menghasilkan banyak produksi pertanian yang dibutuhkan tentara Jepang dalam peperangan.
  • Indonesia memiliki tenaga manusia dalam jumlah besar yang diperlukan untuk membantu perang Jepang.
Pada Januari 1942 Jepang memasuki wilayah Indonesia. Tanggal 1 Maret 1942 pasukan Jepang berhasil mendarat di tiga tempat secara serempak di Pulau Jawa, yaitu di Teluk Banten, Eretan Wetan (Pantura), dan Pasuruan (Jawa Timur). Tanggal 5 Maret 1942 pasukan Jepang sudah berhasil menguasai Batavia. Tanggal 8 Maret 1942 Panglima Angkatan Perang Hindia Belanda Letjen Ter Poorten atas nama Angkatan Perang Sekutu menyerah tanpa syarat kepada Angkatan Perang Jepang yang dipimpin Letjen Hithoshi Imamura.

Upacara serah terima ditandatangani di Kalijati, Subang, Jawa Barat. Setelah menduduki Indonesia, Jepang berusaha menarik simpati rakyat Indonesia. Ada tiga hal yang dilakukan Jepang, yaitu:
  • mengijinkan mengibarkan bendera Merah Putih;
  • mengijinkan rakyat Indonesia menyanyikan lagu Indonesia Raya;
  • larangan menggunakan bahasa Belanda dalam pergaulan sehari-hari.
  • Bahasa pergaulan sehari-hari diganti dengan bahasa Indonesia.
Untuk memikat hati rakyat, Jepang membuat propaganda tiga A. Propaganda yang dilancarkan Jepang itu berisi: Jepang pemimpin Asia, Jepang pelindung Asia, Jepang cahaya Asia.

Penderitaan rakyat pada masa pendudukan Jepang
Penderitaan rakyat Indonesia selama masa penjajahan Jepang antara lain sebagai berikut:
1. Jepang merampas hasil pertanian rakyat, seperti padi dan jagung untuk persediaan 
    makanan pasukan Jepang.
2. Pemerintah Jepang sangat ketat melakukan pengawasan terhadap pemberitaan. Media 
    masa disegel.
3. Jepang juga memanfaatkan rakyat Indonesia untuk diperas tenaganya bagi keperluan 
    Jepang. Para pekerja paksa pada zaman Jepang disebut romusha.
    Selain romusha, banyak barisan dibentuk untuk kepentingan Jepang, seperti:
    (1) Seinendan (barisan pemuda),
    (2) Keibodan (Barisan Pembantu Polisi)
    (3) Fujinkai (Barisan Wanita)
    (4) Suishintai (Barisan Pelopor)
    (5) Jibakutai (Barisan Berani Mati),
    (6) Gakutotai (Barisan Pelajar),
    (7) Peta (Pembela Tanah Air)

Banyak wanita Indonesia yang terpaksa melayani nafsu bejat pasukan Jepang. Tanggal 16 April 1943 Jepang mendirikan Pusat tenaga Rakyat (PUTERA) sebagai ganti Gerakan 3A yang dibubarkan pada November 1942. Jepang mengangkat tokoh-tokoh bangsa Indonesia sebagai pimpinan PUTERA, yaitu : Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantara dan KH. Mas Mansyur yang dikenal dengan sebutan 4 serangkai. Tanggal 3 Oktober 1943 dibentuklah tentara Pembela Tanah Air (PETA). Anggota Peta berasal dari putra-putri Indonesian yang mendapat pelatihan militer dari Jepang. Tujuan pembentukan Peta adalah mempertahankan tanah air Indonesia dari serangan sekutu. Tanggal April 1943 dibentuk Heiho yang dibentuk dari pemuuda-pemudi Indonesia untuk membantu Jepang menghadapi serangan tentara Sekutu

Perlawanan menentang Penjajahan Jepang
1. Perlawanan rakyat Aceh di Cot Plieng tahun 1942
    Perlawanan ini dipimpin oleh Tengku Abdul Jalil. Perlawanan rakyat Aceh juga terjadi di 
    Mereudu pada tahun 1944.
2.Perlawanan di Kaplongan, Jawa Barat
    Jepang memaksa petani di Kaplongan untuk menyerahkan sebagian hasil buminya. Petani 
    marah. Terjadilah perlawanan terhadap pasukan Jepang.
3.Perlawanan di Lohbener, Jawa Barat
    Petani di Lohbener menolak memberikan hasil panen padi kepada Jepang. Terjadilah 
    peperangan terhadap pasukan Jepang yang dipimpin oleh H. Madriyas.
4.Perlawanan di Pontianak, Kalimantan Barat
    Penduduk dipaksa untuk membuat pelabuhan dan lapangan terbang. Para pemimpin 
    sepakat untuk menyerang Jepang. Perlawanan terjadi pada tanggal 16 Oktober 1943. 
    Mereka ditangkap dan dibunuh.
5. Perlawanan Peta di Gumilir, Cilacap
    Perlawanan Peta Gumilir, Cilacap terjadi pada bulan Juni 1945. Perlawanan ini dipimpin 
    oleh Kusaeri, komandan regu Peta di Cilacap. Kusaeri menyerah tetapi tidak dijatuhi 
    hukuman. Sudirman berhasil menolong dan membebaskannya.
6.Perlawanan di Singaparna, Jawa Barat
    Perlawanan Singaparna dipimpin oleh Kiai Haji Zainal Mustafa. Beliau menolak seikeirei 
    (membungkukkan badan kepada Kai-sar Jepang Tenno Heika) dan menentang romusha. 
    Beliau memandang hal itu bertentangan dengan ajaran Islam.
7. Perlawanan Peta di Blitar, Jawa Timur
    Tentara Peta di Blitar memberontak di bawah pimpinan Shodanco F.X. Supriyadi. Namun 
    Jepang dapat mematahkan perlawanan ini. Supriyadi dan teman-temanya ditangkap oleh  
    tentara Jepang